Catatan Hati Muslimah

Dunia Adalah Perhiasan,Sebaik-baik Perhiasan Adalah Wanita Sholehah

KEUTAMAAN membaca nama Allah sebelum melakukan sesuatu tersebar di berbagai riwayat. Tapi seperti kita tahu, Surat At-Taubat dalam Al-Quran tidak dimulai dengan basmallah.
Ada beberapa pendapat soal ini.

Pertama, untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus melihat surat sebelumnya di dalam penyusunan ayat-ayat Al-Qur’an sekarang ini. Yaitu surat Al-Anfal. Berikut dua pendapat berkenaan dengan tiadanya “basmalah” dikaitkan dengan posisi surat.

Menurut Ubay bin Ka’ab, surat Al-Taubah tanpa basmalah karena ia didekatkan dengan surat Al-Anfal. Yang satu berkisah tentang orang-orang yang menepati janji dan kisah tentang perjanjian-perjanjian, sedangkan yang kedua bercerita tentang orang-orang yang melanggar janji. Pendapat kedua yang tidak sepenuhnya berbeda dari Utsman yang mengisahkan kemiripan cerita di antara kedua surat itu. Yang pertama orang yang terikat janji. Dan yang kedua (surat Al-Taubah) tentang orang-orang yang dilepaskan atas mereka janji.

Kedua, ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa ayat itu turun untuk menunjukkan “lepasnya” perlindungan Allah dan Rasulnya dari orang-orang kafir dan musyrik. Dengan tiadanya perlindungan itu, maka dilarang bagi selain orang yang beriman untuk tawaf dan berputar di sekitar rumah Allah Swt.

Ketiga, pendapat berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat. Hudzaifah di antaranya. Ia berkata: “Bagaimana mungkin ia disebut surat Al-Taubah? Ia lebih tepat disebut Surat azab.” Dari Said bin Jubair, ia berkata: aku bertanya pada Ibnu Abbas tentang surat Al-Taubah. Ibnu Abbas menjawab: 
“Itu surat yang menyingkap rahasia-rahasia. Tidak henti-hentinya ia turun, kecuali ada di antara rahasia kami yang diungkapnya. Sampai kami takut bahwa tiada (rahasia) yang tersisa dari seorang pun di antara kami. (semua keterangan di atas dinukil dari Tafsir Al-Tibyan, Syaikh Thusi, juz lima bagian surat Al-Taubah).

Berdasarkan keterangan-keterangan dari para sahabat itu, Surat Al-Taubah adalah Surat yang sangat ‘keras’. Ditujukan pada orang-orang kafir, tapi juga ditujukan pada sahabat-sahabat Nabi Saw. Konon, karena ‘keras’nya ayat-ayat di dalamnya, maka ia tidak diawali dengan nama Allah yang maha kasih maha sayang.

Meski Surat Al-Taubah tidak diawali dengan basmalah, dan manusia hanya mampu menangkap sedikit saja kemungkinan rahasianya, tetapi surat ini diakhiri dengan sangat indah. Setelah di awal berisi pelepasan, di tengah tersebar berbagai kecaman, di akhir surat itu dengan indah ditutup oleh sebuah ayat kebahagiaan. Ayat kasih sayang dan kerinduan.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu. Ia sangat menginginkan kamu bahagia. Amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman. Bil mu’miniina raa`ufur rahiim” 

“Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal, dan Dialah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.” 
 [berbagai sumber]

“Jumlah orang-orang yang benar tidak seharusnya mengusikmu selama engkau telah memainkan bagianmu. Kebenaran itu istimewa dan mulia, dan orang-orangnya sangat sedikit”

Wahai Mujahidah, Wahai Ghoriibah, Wahai orang yang lebih tertarik pada akhirat dari pada dunia ini. Wahai saudariku seagama yang tercinta, istri mujahid yang terhormat dan sahabat terbaiknya.

Segala puji bagi Allah Ta’ala, Ma syaa Allah, engkau berbeda dari wanita-wanita hari ini. Engkau mujahidah sama seperti suamimu. Engkau adalah seorang pahlawan dan seorang tentara Allah. dan engkau adalah pemilik hati dari pohon Oak (pohon yang tinggi, kokoh dan kuat; red)

Engkau memiliki peran yang besar, sebuah pesan yang besar dalam kehidupan yang di pilih ini. Engkau berjalan bersama pasanganmu di jalan yang mulia ini, jauh dari kerusakan barat yang mendominasi dunia. Saat ini atasmu wahai saudariku dalam Islam untuk memahami persyaratan-persyaratan dari jalan ini, komitmen-komitmennya, konswekuensi-konswekuensinya, serta hambatan-hambatannya.

Sementara para mujahid adalah orang-orang yang sangat di berkahi, jihad bukanlah sebuah kehidupan yang penuh dengan kemewahan dan menyenangkan, kehilangan harta, kehilangan sebagian teman-teman dan bahkan hampir semuanya, meninggalkan keluarga dan rumah. kesabaranmu semestinya berada pada puncak sehingga tidak memungkinkan untuk memanipulasimu.

Selalu lah berdoa kepada Allah doa berikut, “Yā Muqallibal qulūb wal absār, thabbit qulūbanā ‘alā dīnik” (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, tsabbatkan hati kami pada dien ini)

Jihad dikelilingi oleh kesulitan. Percaya padaku, tanpanya hidupmu menjadi setawar air soda yang di jemur di matahari. Hal yang paling pasti yang akan engkau hadapi di jalan ini bersama pasanganmu adalah propaganda media tentang jihad dan pengikut-pengikutnya.

Menyedihkan memang, umat islam di sekitarmu mungkin mempercayai cerita-cerita mereka. Kemudian adalah bagimu wahai saudari-saudariku untuk memperkuat kebenaran melawan tuduhan-tuduhan palsu ini. Engkau harus tabah dan tegar agar tidak terpengaruh oleh propaganda-propaganda ini.

Suami mujahidmu dan beserta ikhwannya telah di targetkan oleh penjajah kejam dan agen-agennya, yang sebagian besar adalah masyarakat kita. Sungguh memalukan! Dalam peperangan ini mereka mengandalkan penyebaran kebohongan-kebohongan agar orang-orang menjauhi dan membatasi manhaj serta jalan para mujahidin yang di berkahi ini. Hal ini menyebabkan kurangnya dukungan dari pemuda-pemuda hingga kafilah-kafilah jihad menjadi terbatas.

Mereka berusaha keras untuk meningkatkan jumlah pengecut yang tidak siap untuk mendukung dien mereka. Sayangnya, propaganda-propaganda orang kafir telah memasuki sebagian rumah-rumah muslim dan memutar-balikkan fikiran-fikiran mereka yang lemah –semoga Allah membimbing mereka.

Adalah bagimu untuk memahami dan berhati-hati pada realita peperangan media ini. Engkau harus membuat perhitungan bahwa musuh-musuh kita sedang merekrut siapa saja yang mereka bisa untuk berperang melawan Islam.

Kesedihan terpahit kita adalah, umat islam cenderung di tiup jauh dari jihad dengan ceramah-ceramah menyesatkan dari ulama-ulama sendiri. Ulama-ulama yang di pengaruhi oleh musuh; yang hanya dengan sedikit uang!. Namun Alhamdulillah, ummat ini telah bangkit, bahan-bahan jihad telah menyebar di net, ambil bagianmu sebarkan kebenaran.

Saudariku dalam Islam, istri mujahid yang di hormati….
Bicaralah kepada orang-orang di sekitarmu yang berbicara buruk tentang jihad. Nasehati mereka agar bersikap adil dan bijaksana dan jangan hanya mendengar dari satu sisi saja dan menjadi tuli mendengar dari sisi yang bersebrangan. Buat mereka sadar bahwa ini penting, setelah mendengar berita dari media mainstream agar mentabayunkannya ke media-media mujahidin.


Istri seorang mujahid, engkau mungkin melihat, bahwa tidaklah cukup untuk berjalan di sepanjang jalan ini yang dibungkus dengan emosional, atau sekedar memiliki keinginan untuk membalas, atau untuk memulihkan martabat kita semata. Karenanya, ini juga menjadi tugasmu untuk mempersiapkan dirimu dan mempersenjatai dirimu dengan ilmu pengetahuan. Perluaslah pengetahuanmu pada bidang yang dapat membantumu memahami jalan-jalan para Nabi dan para Mujahidin. Lahaplah ilmu wajib yakni ilmu tawheed dan esensi dari dien ini.

Bacalah Al-Quran setiap hari dan bersegeralah dalam mengenali agamamu dengan lebih baik lagi. Biasakan membaca tentang kehidupan para Nabi, pahami dengan benar bagaimana mereka berjuang, bagaimana mereka bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan ambillah ibroh darinya. Baca dan lebih pahamilah kehidupan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, karena mereka-lah sebaik-baik suri teladan.

Para Mujahidin –semoga Allah menjaga mereka- adalah penegak-penegak panji tawheed yang kuat, para pengikut syari’at Islam, para pengikut jalan Nabi kita tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam; yang menyatukan umat Islam ini!

Wahai ibu dari mujahid masa depan, kewajiban dan tanggung jawab untuk mengajar dan mencerahkan anak-anak-mu terletak pada dua bahu-mu. Mereka adalah permata yang berharga dalam hidupmu, mereka adalah amanah dan tanggung jawabmu. Engkau harus mengajari mereka tentang Islam dan suapi mereka dengan sejarah-sejarah Islam. Agar mereka dapat belajar dan mencintai agama mereka serta siap berperang demi agama. Yang terpenting sekali, engkau harus mengebalkan mereka dari kepalsuan dan penipuan terhadap agama kita. Dorong mereka untuk mencari ilmu yang akan menguntungkan umat Islam.

Saudariku dalam Islam, jumlah orang-orang yang benar tidak seharusnya mengusikmu selama engkau telah memainkan bagianmu, kebenaran itu istimewa dan mulia, dan orang-orangnya sangat sedikit.

Allah berfirman, “dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (mereka adalah kaum musyrikin).” (Yusuf: 106) dan Ibrahim -‘Alayhis salam- dulunya sendiri, namun Allah menyebutnya ‘ummah’; Sebuah bangsa.

Ukhty ku sayang,,,,,
sekiranya terdapat angin kekalahan berhembus pada kehidupan-mu, atau telingamu terbanting ke bawah oleh kerasnya suara bom dan rudal, atau bahkan engkau telah mendengar tentang pemenjaran beberapa mujahidin dan di antaranya adala suami mu, engkau seharusnya mendukung dan memberi semangat suami mu, jangan pernah melepaskannya dan meninggalkan-nya pada saat-saat di butuhkan seperti ini.


Setelah pertemuan pertama beliau dengan Jibril –‘Alayhis salam- di gua Hira, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam menggigil ketakutan. Pada tahap ini beliau kembali kepada istrinya Khadijah dan bersabda “Selimuti aku, selimuti aku”. Dia menyelimuti beliau hingga beliau merasa nyaman. Beliau Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memberitahu Khadijah -Radhiyallahu ‘Anha- tentang kejadian di gua tersebut dan menambahkan bahwa beliau merasa ngeri.

Apakah dia berbaring atau menjadi gelisah dan bingung?
Tentu saja tidak!

Sebagai istri ia mencoba menenangkan beliau dan meyakinkan beliau Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dan mengatakan, “Allah tidak akan mempermalukanmu, engkau menyatukan hubungan nasab, membantu yang lemah, engkau membantu orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan, engkau memuliakan tamu dan bertahan dengan kesulitan di atas jalan kebenaran.”

Wahai saudari yang mulia….
Suami mu mungkin saja terdaftar paling atas di daftar DPO, pada saat ini ia mungkin juga di penjara, duka yang mendalam dan kesedihan mungkin saja sedang berada di sisinya, berikan pundakmu untuknya, jadilah sumber dukungan dan sumber kekuatan baginya.


Kuatkan lah ia, dan ketikan cobaan datang padanya, katakanlah,  
“Sayang, semua baik-baik saja, tidak ada yang berbahaya, sebelum engkau Ammar telah di usik …. sebelum engkau Bilal telah bersabar…

Dan sebelum engkau Salaahuddin telah menang …. dan In syaa Allah engkau pun akan menang.. baik dengan kemenangan atau pun mati syahid.”

Diambil dari Majalah Inspire Seri ke 12.
Diterjemahkan oleh Inbin Deep/ I’mNot-a Barbie I’am-a Neqabie

Dipublikasikan ulang oleh Shoutussalam Islamic Media

Bismillah..

Shoutussalam – Aku dedikasikan untuk tuan putriku tercinta…

Kau tak pernah mengeluh ketika engkau tahu kita tak akan memiliki apa-apa. Puas hatimu hanya memiliki sedikit dari apa-apa yang kau butuhkan. Sementara, orang lain mungkin akan pergi meninggalkanku ataupun mengeluh, tapi kau tak pernah sekalipun merasa resah.

Kau benar-benar mengerti, apa yang telah Rabb kita tuliskan hari ini adalah apa-apa yang akan menjadi santapan pengisi perut kita. Aku tidak pernah mengeluhkan makanan apapun yang ada di hadapanku. Karena ku tahu, kedua tanganmu yang menyiapkan dan membawakannya padaku.

Di kala ku tak memiliki apa-apa, yang kupunyai adalah engkau…
Kita berdua pun tersenyum, sementara kita saksikan berbagai macam kerusakan dan marabahaya mengancam kita, kita ketahui bahwa mereka yang mengincar kita tidaklah berada di atas kebenaran. Dan kau istriku, sedikitpun engkau tak pernah memberikan rasa simpati pada musuh-musuh kita.

Tak pernah aku mempertanyakanmu, kau adalah penyimpan segala rahasiaku, penjaga kehormatanku, dan keyakinan agamaku terasa aman ketika berada disisimu. Engkau pun tahu, hidup bersamaku akan menghantarkan berbagai macam kesulitan untukmu, tapi tak pernah terucap keluhan dari bibirmu.

Tuan putriku, kau adalah sosok yang kuat dan itu membuatku juga merasa kuat. Kau ibaratkan ujung tombak umat ini, tapi kau sembunyikan kekuatanmu. Wanita lain akan bergesa-gesa mengutamakan kesenangan, keinginan dan hawa nafsu mereka. Sementara kau, engkau adalah esensi ketaqwaan.
Hidup ini terasa lebih mudah ketika bersamamu. Kau adalah pelengkap diriku dan aku tidak akan pernah bisa menjelaskan melalui untaian kata, aku tidak akan lebih baik jika tanpamu. Engkau tahu dimana tempatmu berada, yakni selalu di sampingku.

Kau tahu, ada satu hal sepele yang membuatku yakin akan bersamamu seumur hidupku. Dari caramu memandangku, di dalam matamu aku tahu bahwa akulah satu-satunya pria yang kau mau.
Kau pun curi hatiku, lantas kau sembunyikan ia.

Aku amat mencintai rasa kecemburuanmu. Aku suka menggodamu dengan menyebut orang lain hanya supaya aku bisa tahu, bagaimana dalamnya rasa sayangmu padaku.

Setan pun tak memiliki kesempatan untuk mendekatimu karena kau tak pernah tertinggal dalam Sholat Fajar. Aku teramat suka ketika kau terlebih dahulu meninggalkan ranjang tempat tidur kita untuk menyongsong puasa.

Aku senang, kebenaran lebih kamu cintai dari pada hidupku dan berbagai perhiasan dunia ini. Kala ku melihatmu sedang mengurus anak-anak kita, dalam batinku aku tersenyum dan bertanya-tanya, aku tak akan pernah menginginkan wanita lain selainmu.

Cintaku, sebenarnya kita bisa saja memiliki semua kesenangan dunia ini. Akan tetapi, siapakah gerangan yang rela menjual surga untuk kemudian ditukar dengan satu kesenangan semu ini? Bukan kita! Tak akan kita seperti itu!

Aku telah memilihmu wahai cintaku sebagaimana aku tahu bahwa anak-anakku akan aman bersamamu. Tak kan pernah aku merasa harus mengkhawatirkan al wala’ wal baro’ dari bayi-bayi kecil kita. Mereka akan mencintai apa yang kita cintai, mereka akan mencintai Allah yang Mahasuci dan Maha Tinggi, mereka akan mencintai Nabi dan para sahabatnya.

Mereka akan hidup untuk melayani satu kalimat, 
“La illaaha illallah Muhammad Rasulullah!”

Orang lain mungkin akan menyerah ketika memperjuangkannya, tapi anak-anak kita tidaklah akan demikian. Detak jantung mereka akan senantiasa mengiringi kalimah syahadah, lisan mereka akan senantiasa bersaksi atasnya, dan kedua belah tangan mereka akan meninggikannya.

Tuan putriku, cintaku, jangan berpikir aku pergi meninggalkanmu.
Jangan berpikir bahwa di dunia ini ada sesuatu yang lebih berharga bagiku, daripada saat-saat ketika aku melangkah menuju rumah kita, dan aku mengetahui siapakah di balik pintu itu yang tengah menunggu kepulanganku.

Aku pergi untuk menemukan tempat yang lebih baik bagi kita, aku pergi untuk memenuhi penawaran dari Rabb yang mempertemukan kita. Perniagaan bisnis paling indah dan terbaik keuntungannya diantara yang terbaik. Yakni Surga.

Allah selama ini benar-benar amat menyayangiku, kenapa? Karena Dia memberikanmu padaku. Dan hal yang paling sulit bagiku adalah ketika kembali menyerahkanmu padaNya, lalu pergi memunggungimu.
Orang-orang mengatakan, bahwa mereka tak bisa memahami apa yang kita lakukan, mereka tak mengerti bahwa setelah ini semua kesedihan akan terlupakan, dan rumah baru kita telah menantikan kedatangan kita.
Kita sedang berbicara tentang sungai madu dan susu yang mengalir di Surga. Kita sedang berbicara tentang istana bertaburkan mutiara dan singgasana emas disana.

Sungguh, aku teramat takut gerbang Surga akan menutup sebelum aku bisa memasukinya. Aku khawatir orang lain akan mendahuluiku.

Aku tahu kau akan mengirim anak-anak kita untuk mencari ayah mereka, kau akan memberitahu putra-putri kita bahwa mereka akan menemukanku di setiap pertempuran dimana Bendera Hitam berkibar. Katakan kepada anak-anak kita, bahwa burung-burung hijau akan pergi menemui mereka mengabarkan kesyahidanku.

Aku pernah mengatakan, hanya 2 hal yang akan selalu kumiliki, Kau istriku dan kematian. Aku hidup bersamamu, tapi sekarang aku harus menikah lagi. Aku harus menikahi apa yang telah dijanjikan kepadaku ketika aku dilahirkan ke dunia ini. Aku harus menikahi taqdirku itu, dan sebagai imbalannya aku harus menikahi kematian.

Setelah kematian datang dan diriku di hisab, aku akan berdiri di barisan para syuhada’ yang merupakan sebaik-baiknya makhluk yang telah Allah ciptakan. Dan setelahnya, aku akan memohonkan izin pada Allah untuk mempertemukan kita kembali.

Tidak ada wanita yang cukup layak untuk berdiri di sampingku selain engkau. Lantas kenapa aku mengingninkan wanita lain di akhirat?

Istriku cintaku, hidupku saat ini tanpa kehadiranmu memang amat menyulitkanku. Tapi kita tahu, setelah ini kehidupan kita di akhirat akan menjadi lebih indah pun dikelilingi oleh keabadian…

Sumber : shoutussalam.com

Bismillah,,,,

Jika ada yang berkata: JAUHILAH BID'AH, SETIAP BID'AH ADALAH SESAT" , mungkin ada yang membantah dgn mengatakan:

1. jangan pake FB, itu juga bid'ah

2. kalo haji naik onta, jgn pake pesawat karena bid'ah

3. jangan dakwah lewat internet, itu bid'ah

4. jangan gunakan alat2 modern seperti mobil, radio, dll, karena bid'ah

5. jangan adzan pake pengeras suara karena itu bid'ah

6. membukukan Al Qur'an juga bid'ah

7. kalau jihad pakelah pedang, jangan pake senjata2 modern karena itu bid'ah

8. argumen yg biasa dipakai pembela bid'ah adalah: dalam hadits shohih memang disebutkan bahwa nabi berkata KULLU BID'ATIN DHOLALAH, kata KULLU bisa bermakna SETIAP/SEMUA, namun bisa juga diartikan SEBAGIAN BESAR (tidak semua) -

Bantahan ringkas:

Siapa bilang hal-hal diatas itu bid'ah? yang bilang hal-hal diatas bid'ah kan anda sendiri, bukan kami. Kalau menurut kami, setiap bid'ah memang sesat, namun harus anda pahami apa itu definisi bid'ah, batasan-batasannya, dan kriteria-kriterianya. Jadi bukan serampangan membabi buta menyebut ini bid'ah itu bid'ah.

Bid'ah adalah dalam hal agama, menciptakan syariat baru dalam agama. Maka hal-hal duniawi seperti teknologi otomatis bukan bid'ah.

Sedangkan menggunakan teknologi sebagai sarana, tanpa mengubah syariat, maka itu juga bukan bid'ah, misalnya: menyampaikan dakwah lewat media komunikasi apapun maka itu bukan bid'ah, kalau Nabi dahulu dengan mengirim tulisan lewat surat, maka zaman ini dgn mengirim tulisan maupun suara lewat sarana-sarana modern.

Begitu juga alat transportasi bukanlah bid'ah, senjata juga bukan bid'ah. Adzan dgn pengeras suara juga bukan bid'ah karena tidak mengubah syariat.

Hal-hal yg dilegalkan oleh khulafaur rasyidin dan disepakati para sahabat nabi maka juga bukan bid'ah, karena nabi memerintahkan mengikuti sunnah khulafaur rasyidin. Misalnya pembukuan Al Quran, dll. Mengikuti sunnah khulafaur rasyidin sama dengan mengikuti sunnah nabi.

Jihad dgn senjata modern bukan bid'ah karena senjata hanya sarana dan tidak ada aturan baku dari agama, selain itu dalam Al Quran disebutkan: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” maka senjata modern masuk dalam hal ini.

Penjelasan selengkapnya tidak disampaikan disini, namun silahkan baca semua artikel dibawah ini untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif/menyeluruh dan tidak setengah-setengah.

:: Karena ISLAM telah SEMPURNA, tidak butuh tambahan-tambahan..
===================================

KUMPULAN ARTIKEL MEMBEDAH SELUK BELUK BID'AH

Keterasingan Sunnah Dan Ahlu Sunnah Di Tengah Maraknya Bid'ah Dan Ahli Bid'ah
http://almanhaj.or.id/content/2720/slash/0/keterasingan-sunnah-dan-ahlu-sunnah-di-tengah-maraknya-bidah-dan-ahli-bidah/

Sepuluh Kalimat, Bukti Bahwa Semua Bid'ah Adalah Sesat
http://elhijrah.blogspot.com/2011/10/sepuluh-kalimat-bukti-bahwa-semua-bidah.html

Perkataan Ulama Salaf Dalam Mencela Bid’ah
http://al-atsariyyah.com/perkataan-ulama-salaf-dalam-mencela-bid’ah.html

Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah
http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html

Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?
http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html

Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah
http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html

Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH
http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html

Perbedaan Antara Adat Dan Ibadah
http://muslim.or.id/aqidah/perbedaan-antara-adat-dan-ibadah.html

http://muslim.or.id/manhaj/bedakan-bidah-hasanah-dan-bidah-sayyiah.html

Seluk Beluk Bid’ah
http://buletin.muslim.or.id/manhaj/seluk-beluk-bidah

Bid’ah Bukan Dalam Urusan Dunia
http://muslim.or.id/manhaj/bidah-bukan-dalam-urusan-dunia.html

Sunnah Hasanah atau Bid’ah Hasanah?
http://muslim.or.id/manhaj/sunnah-hasanah-atau-bidah-hasanah.html

Hadits-Hadits Tentang Bid’ah
http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-tentang-bidah.html

Ini Dalilnya (1): Manakah Bid’ah dan Manakah Sunnah?
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-1-mukaddimah-sanggahan-terhadap-buku-mana-dalilnya-1.html

Ini Dalilnya (2): Jadikan Manhaj Salaf Sebagai Rujukan
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html

Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bidah.html

Ini Dalilnya (4): Adakah Bid’ah Hasanah?
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-4-adakah-bidah-hasanah.html

Ini Dalilnya (5): Makna Setiap Bid’ah adalah Sesat
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-5-makna-setiap-bidah-adalah-sesat.html

Ini Dalilnya (6): Benarkah Pembagian Bid’ah Menjadi Lima?
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-6-benarkah-pembagian-bidah-menjadi-lima.html

Ini Dalilnya (7): Beda Bid’ah dan Mashalih Mursalah
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-7-beda-bidah-dan-mashalih-mursalah.html

Ini Dalilnya (9): Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-9-meluruskan-pemahaman-tentang-bidah.html

Ini Dalilnya (10): Terapi Intensif bagi Pelaku Bid’ah
http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-10-terapi-intensif-bagi-pelaku-bidah.html

Yang Bukan Bid’ah (1)
http://muslimah.or.id/manhaj/yang-bukan-bidah.html

Yang Bukan Bid’ah (2)
http://muslimah.or.id/manhaj/yang-bukan-bidah-2.html

Waspadalah…. Bid’ah Tersebar, Reduplah Sunnah
http://muslimah.or.id/manhaj/waspadalah-bidah-tersebar-reduplah-sunnah.html

Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi
http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html

“Assalaamu’alaikum…!”
 Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada orang yang menjawab salamnya. 
 Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya. Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.


Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah. Kakeknya mengatakan, “Jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamupun juga tidak sama persis dengan maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi. Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur.”


“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.
Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.
Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.


Dalam batin, dia bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktifitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.


“Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku. Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.


“Wahai istriku, dikala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.


“Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.


“Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumahtangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”


Tanpa terasa airmata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian iapun terlelap.
Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat kaget.


“Astaghfirullaah, sudah jam dua?” Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya.
Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.


“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati. Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.


“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.


“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.


“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.


“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.


“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lillmutaqiina imama.....

Maaf panjang, tp krn isinya bgs, jd sayang kalo ga dishare

♥ Kunjungan ♥

♥ My Twitter ♥

♥ Pengikut ♥

Diberdayakan oleh Blogger.

Sepintas tentangKU

Foto saya
Saya adalah sosok Manusia biasa yang pasti punya kelebihan & k'kurangan yang di ciptakan Allah tuk mencari KeridhoanNya serta mempunyai ribuan cara tuk mencapai kerinduan yang selama ini ku tanam

Kutipan Hikmah

Bukalah kedua matamu pada alam semesta ini maka kamu akan melihat indahnya keindahan.

Bukalah hatimu untuk melihat rahasia-rahasia keindahan ini maka kamu akan melihat kehidupan ini berbunga-bunga.

Selamilah kehidupan dalam sanubarimu maka kehidupan tersebut akan menjadi milikmu seluruhnya.

Satukan hatimu padaku maka aku akan menyatukan akalku padamu. Berikan tanganmu kepadaku maka sungguh aku berharap dapat memberimu kehidupan yang damai lagi bahagia dengan seizin Allah.

Bukalah dadamu, aku akan memenuhinya dengan kehangatan, cinta dan kejujuran.

Bersamalah denganku supaya aku menjadi milikmu dan sebagaimana yang kamu cintai.Berikan kepadaku air mata yang akan menghidupkan hatimu dan menghibur jiwamu.

“Ketika Allah menciptakan akal, Ia berfirman kepadanya: “Kemarilah!” Ia pun menghadap. Ia berfirman kembali: “Mundurlah!” Ia pun mundur. Kemudian Ia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih Kucintai darimu, dan Aku tidak akan menyempurnakanmu kecuali bagi orang yang Kucintai. Semua perintah, larangan, siksa dan pahala-Ku
tertuju kepadamu”

“Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu’.” Salah seorang bertanya kepada Imam, “Apakah tanda-tanda tawadhu’ itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran.” (Hadits Imam Ja‘far as)


“(Jika sesuatu digabung dengan yang lain), tidak ada gabungan yang lebih indah dari kesabaran yang digabung dengan ilmu”.
Sebab air mata kita adalah tinta untuk berfikir. Ungkapan-ungkapan kita teguh diatas prinsip dan tangisan kita senantiasa berada diatas Manhaj.

Bila kita menuntun hati kita dengan cinta kepada selain yang layak dicintai, maka kita kehilangan milik kita yang paling kita banggakan.

Bila kita sedang mencari-cari tempat keberadaan cinta itu, sedangkan kita menyangka keberadaannya, sesungguhnya kita perlu untuk mencintai tapi tidak berlebih-lebihan, menyenangi tapi tidak berlebihan dan rindu tapi dengan pembatasan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barang siapa yg sdang di smpitkan rezkinya, sdang punya bnyak masalah, sedang punya keinginan. Gampang kata ALLAH, cobalah sedekah! ALLAH akgn bikin yang sulit bisa jdi mudah. (Q.S Ath-Thalaq ayat 7)

Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S Ali 'Imran ayat 147)

"Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (Bukhari - Muslim)


Dari 'Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi." (Bukhari - Muslim)

Dari Musa al-Asy'ari r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Seseorang itu akan berkumpul bersama orang yang dikasihinya." (Bukhari - Muslim)


Dari Adiyyi bin Hatim ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Bersedekahlah supaya engkau diselamatkan dari api neraka walaupun hanya sebagian dari sebuah kurma." (Bukhari)


Dari Anas r.a. berkata: Nabi saw bersabda,"Ya Allah,sesungguhnya tidak ada kehidupan yg sebenarnya kecuali kehidupan akhirat." (Bukhari - Muslim)