Kepada semua suami-suami di dunia, inilah yang sebenarnya diinginkan para istri.
Suamiku,
Mungkin pernah tersirat di dalam benakmu bahwa kau telah salah
memilihku menjadi pasanganmu. Kadang kala aku mengganggumu dengan semua
rajuk manjaku.
Aku juga sering membatasi kebebasanmu yang tak sama lagi
seperti dulu.
Aku sering mengusirmu karena asap rokok itu. Bahkan
tertidur lebih dulu saat kau pulang larut malam.
Tetapi, di saat kau sibuk dengan pekerjaanmu, ingatlah bahwa aku selalu setia menunggumu. Kudoakan kau di dalam kecemasanku.
Dan saat aku rela pergi bersama dirimu, ingatlah bahwa ada banyak orang
yang kutinggalkan demimu. Orang tuaku, sanak saudaraku,
sahabat-sahabatku.
Dan kubiarkan kau mengisi seluruh kekosongan hatiku.
Saat aku tak sengaja melakukan sebuah kesalahan.
Janganlah ego dan
kekasaran yang ditunjukkan.
Tetapi perlakukan aku dengan lembut dan
bicaralah dalam ketenangan.
Saat aku ingin kau menemaniku, dan kau
terlarut dalam kesibukanmu,
hatiku teriris dan haus akan perhatianmu.
Yang kupinta adalah sedikit perhatianmu itu.
Saat kau ingin pergi
dan aku ingin kau tinggal di sisiku, percayalah itu bukan melulu karena
cemburu. Tetapi karena aku tak ingin jauh darimu.
Saat aku menangis tersedu, aku ingin kau memelukku dan mengatakan
"semuanya akan baik-baik saja."
Saat aku sedang gusar, peganglah tanganku.
Tanpa berkata apapun aku tahu bahwa kau tak akan pernah meninggalkan aku.
Ceritakan semuanya kepadaku, bukan seperti kau bercerita kepada pasanganmu,
tetapi seperti kau kepada sahabatmu.
Apabila keinginanku mulai terlalu banyak, ingatkan aku untuk selalu
bersyukur memilikimu.
Dan bahwa semua yang dimiliki di dunia ini akan
kita tinggalkan kelak.
Dan bila aku dikalahkan oleh rasa kantukku,
bangunkan aku dengan lembut.
Ingatkan aku akan tanggung jawab yang belum
kuselesaikan.
Bukan dengan suara garang yang membuat nyaliku ciut.
Ketika kau sedang terhanyut dalam lautan emosi, pandang mataku
dalam-dalam.
Jauh di dalam beningnya, ada cinta untukmu, dan akulah yang
kau cintai itu.
Aku yang selalu mencintaimu,
Istrimu.
Bismillah....
Suamiku...
Di dalam keterbatasan ruang ini...
banyak yang ingin kutulis tentangmu
Aku mohon...
Berikan sedikit saja ruang waktumu
Untuk membaca ratapan hatiku
dalam selembar kertas putih
bertebaran kata-kata penuh arti untukku
Sayangku....Kekasihku...
Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam bersabda :
"Dan sebaik-baik wanita ialah yang menyenangkan hatimu apabila kamu melihatnya, dan mentaatimu apabila kamu menyuruhnya, dan dia memelihara maruah dirinya dan hartamu disaat kamu tidak ada".
Suamiku...
Aku sebenarnya malu untuk bertanya padamu tentang hal ini
Berkatalah sejujurnya walau itu sangat pahit untukku.
Suamiku..sejak kita menikah...
Berbahagiakah kamu saat melihat aku sebagai istrimu...?
Jujurlah suamiku...!!
Kutahu wahai suamiku...
Sudah berapa kali kau merasa kecewa karena aku
Sudah berapa kali kau merasa bersedih karena ucapanku
Sudah berapa kali kau merasa terluka oleh karena aku
Sudah berapa kali nasihatmu tak pernah aku terima
Apakah dengan membuatmu kecewa, bersedih, terluka..
Masih adakah ridhomu padaku?
Jawablah suamiku..!!
Maafkan aku suamiku...
Aku hanya wanita biasa
Tak seindah pribadi Khadijah, Fatimah dan Aisyah
Tidak semulia Sumayyah juga Mutia
Aku ini lemah penuh kekurangan
maka bimbinglah aku mencari ridhomu..
Suamiku...bantulah aku mencari jalan menuju SyurgaNya..
Duhai suamiku..
Aku ingat kisah ini..
Seorang perempuan bertanya pada Rasulullah Salallahu'alaihi wasallam serta menerangkat katanya :
"Sesungguhnya sepupuku meminangku, maka sebelum aku berumah tangga, ajarkanlah kepadaku, apakah hak suami terhadap istrinya? Rasulullah Salallahu'alaihi wasallam menjawab : "Sesungguhnya hak suami terhadap istrinya sangatlah besar, sehingga apabila mengalir darah hidung atau nanah suaminya, lalu dijilat istrinya, masih belum terbayar hak suaminya itu. Dan jika sekiranya manusia dibolehkan sujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan si istri untuk sujud kepada suami" (HR. Al-Hakim)
Suamiku...
Mohon ridhomu untuk Syurga duniaku dan juga SyurgaNya yang abadi
Untukmu wahai Imamku...
Sebagai wanita dalam hidupmu
Terkadang aku sering kali berusaha menjerat habis waktumu bersamaku
Menarik seluruh perhatianmu
Merayumu untuk menyerkahkan cintamu agar tak terbagi
Menginginkan semua inginku kau wujudkan
Mengertiku bahkan dalam diamku
Sadarlah diri,
Aku hanya jelmaan sebelah rusukmu
tentu, aku tidak sempurna
Maka tuntunlah aku
Terus mengiringku untuk meraih citaku
Menjadi Hamba Nya yang taat dan Istri Sholehah untukmu
Maka saat ini aku terus merasa kurang
Merasa selama ini betapa sering mungkin terus menyesakkanmu
Tidak ada hal buruk dihatiku, selain cinta yang menggelora untukmu
Mohonku terus padamu suamiku tercinta
Limpahi aku dgn maaf tanda ridhomu
Sholatku, ibadahku, dan puasaku
Hanyalah debu tanpa ridhomu..
Tuntun terus aku,
Citaku tak sulit jika diiringi ridho Allah dan ridhomu,
dan semoga Allah terus meridhoi kita
Sehingga dengan ridho Nya pula
Kita akan dipertemukan kembali di Syurga Nya..
@tCardinalia (Ummu Faaris Abbad)
Suamiku…
Dia adalah yang menaklukan hatiku ketika pertama memandang
Dia adalah hadiah Ar Rahman kepadaku setelah kesabaranku menanti
Agar dianugerahi teman yang shalih
Teladan dalam meniti hidup
Yang menjaga rahasiaku
dan
Mengusap air mataku
S’lalu berusaha mengembalikan senyuman
Di bibirku
Dia lah suamiku
Nahkoda bahteraku
Dia adalah orang yang membangunkan di kelam malam
Dengan setiap rakaatnya… kian bertambah cintaku padanya
Dia tak kan nyenyak tidur ketika sakitku
Dia membetulkan bacaan dan hapalan Al Quranku
Bersama mempelajari hadits2 Al Mushthafa
Dan menerapkan dalam setiap muamalah
Yang memaafkan salahku
Dengan akhlak Nabi ia memperlakukanku
Dialah teman dunia dan akhiratku
Ya Allah jagalah ia dan mudahkanlah urusanya
Jauhkanlah ia dari fitnah dunia dan perhiasannya
Sibukkan dia dengan cita2 akhirat dan jadikan dia ridha kepadaku
Jasad kami fana di dunia ini.. maka jadikanlah cinta dan kasih sayang kami sepanjang masa hingga di surga
Segala puji bagiMu ya Rabb
Yang telah menganugerahkan pria ini untukku
Sungguh! Aku bersaksi kepadaMu bahwa
Kucintakan dia di jalan Mu
Jangan lah jauhkan aku dari dia
Dan jadikanlah aku bidadarinya dunia dan akhirat
—
Puisi ini ditulis oleh Ustadz Abu Zubair Al Hawary, Lc. dengan sudut pandang seorang istri, sebagai nasehat baik bagi para suami dan juga para istri
Bismillah...
"Afwan, hari ini tidak tilawah, tdk bawa Quran, tidak lapor gak ada sinyal"
Kata Allah..
Hari ini permintaan kamu di tunda dulu yah, sinyalnya putus-putus tidak
jelas. Masih banyak hambaKU yang berusaha mencari 'sinyal' untuk
berkomunikasi denganKU.
"Afwan, hari ini sibuk banget tidak sempat tilawah.."
Kata Allah..
Silahkan kamu cari jalan keluarmu sendiri, masih banyak hambaKU yang lebih sibuk mencariKU agar urusannya dimudahkan.
"Afwan, juz saya dilelang dulu yah. Saya pulang kerja, sudah lelah dan tidur.."
Kata Allah..
Sayang sekali, baru saja AKU ingin mengabulkan permintaanmu. Kalau
begitu permintaanmu AKU lelang dulu kepada yang lebih sibuk meminta dan
beribadah padaku.
"Afwan saya sedang ada masalah, afwan saya sedang tidak enak badan, afwan.. Afwan.. Afwan.."
Ahh, lupa kah kita jika tilawah adalah obat segala penyakit?
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu menjadi penyembuh dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)
Sungguh, rugi waktu yang kita lewati hanya karena keduniaan.
Jika kita bisa banting tulang bekerja mencari rezeki, kenapa tidak bisa banting tulang untuk ibadah?
Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...
Ibadah, ibadah, ibadah kemudian usaha..
Semua terjadi atas izin Allah. Maka, minta izin dulu kepada yang Maha Memiliki, Maha Kaya.
Jangan berikan Allah sisa waktu kita. Nanti Allah kasih rezekinya sisa-sisa.
Yakinlah, yakin ibadah tak kan mengurangi waktu kita berkarya di dunia.
Yakinlah, yakin jika Allah telah memberi izin dan Ridho NYA, in syaa Allah semua akan dimudahkan.
Yakinlah, yakin semakin besar premi yang kita berikan, makin besar pula jaminan yang kita dapatkan.
Yakinlah, yakin. Agar Allah pun yakin kita siap menerima permintaan dan keinginan kita
Sumber : https://www.facebook.com/pages/One-Day-One-Juz
Maka Nikmat Rabbmu Manakah Yang Engkau Dustakan~?
Saat sedang duduk di depan komputer siang tadi sambil menikmati secangkir kopi hangat dengan suasana tenang dan diiringi rintik hujan, entah mengapa tiba-tiba saja saya tercenung mengingat salah satu ayat Allah,
Fabiayyii ‘alaa-i rabbikumaa tukadzdziban? Maka nikmat RabbMu manakah yang engkau dustakan? (Qur’an Surah Ar Rahman)
Dan saat itu pula seperti tergambar dengan jelas nikmat-nikmat apa saja yang telah Allah berikan, dari mulai saya dilahirkan ke dunia hingga detik ini. Begitu tak terhingga..Lantas saya membandingkan keadaan saya saat itu yang berada di rumah dengan segala kehangatan, dengan mereka yang tengah berjuang di luar sana mencari nafkah, tak peduli dingin dan hujan.
Saya pun jadi merenungkan nikmat-nikmat apa sajakah yang telah lupa disyukuri, dan sibuk untuk mengeluhkan berbagai hal yang sesungguhnya tak perlu.
Ketika kita, -mungkin saya- sibuk ingin pakaian yang begini dan begitu, sesungguhnya diluar sana banyak mereka yang tidak bisa mengganti pakaiannya setiap hari karena jumlah pakaiannya yang terbatas.
Ketika barangkali kita sibuk ingin uang yang ber-jut-jut untuk memenuhi kebutuhan bulanan kita, ada mereka yang harus puas dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja. Bahkan untuk menambal kebutuhan tak jarang mereka berhutang.
Ketika barangkali kita mengeluhkan bentuk wajah, berat badan atau penampilan fisik yang kurang sempurna, sesungguhnya banyak diantara saudara-saudara kita yang jauh lebih tidak sempurna dengan kekurangan fisiknya. Ada yang tidak bisa melihat, berjalan atau mendengar.
Ketika barangkali kita mengeluhkan tentang rumah yang sempit, atap bocor atau desain ruangan yang tidak sesuai dengan selera kita, ada baiknya kita mengingat mereka yang tidak mempunyai tempat bernaung, para tunawisma. Bahkan saya pernah melihat liputan di televisi, ada bapak dan anak yang tinggalnya di gerobak, jika sang anak tidur, bapaknya mengalah tidur di emperan, begitu juga sebaliknya.
Ketika barangkali kita terus-menerus mengeluhkan tentang pelajaran yang padat, tugas sekolah yang menumpuk dan situasi sekolah yang jauh dari harapan, coba sekali-kali kita tengok saudara-saudara kita yang ingin sekali mengenyam pendidikan namun terbentur masalah biaya. Mereka yang putus sekolah bahkan yang sama sekali tak pernah merasakan duduk di bangku sekolah sejak kecil. Dan mereka yang seperti ini ini ada, ini realita, bukan dongeng semata.
Ketika barangkali kita sibuk membandingkan pasangan kita dengan pasangan orang lain yang (dianggap) lebih menarik, lebih romantis atau lebih segala-galanya, pernahkah kita mencoba membandingkan dengan pasangan orang lain yang jauh lebih buruk keadaanya dibanding pasangan kita? Yang lebih ringan tangan menyakiti pasangannya, yang lebih tajam mulutnya, yang lebih menghalang-halangi pasangannya untuk taat kepada Allah Ta’ala.
Juga ketika seringkali kita mengeluhkan tentang udara yang begitu panas dan gerah, padahal di luar sana mereka yang berprofesi sebagai pedagang keliling atau sopir, jauh lebih merasakan teriknya matahari dibandingkan saya yang berlindung di bawah atap.
Ketika kita dibuat pusing oleh perilaku anak-anak kita dan merasa lelah mengurus mereka, pernahkah kita berpikir sekali saja.. “Bagaimana jika Allah mentakdirkan kita tidak dapat memiliki anak?” atau betapa sedihnya mereka yang dengan ikhlas menerima kenyataan, telah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya..
Ketika barangkali kita sibuk dengan pertanyaan, “Mau makan dimana siang ini?” tengoklah saudara-saudara kita yang juga seringkali bertanya walau dalam hati, “Apa yang bisa kita makan hari ini?”
Ketika barangkali kita yang telah menikah senantiasa mengeluh, merasa jenuh dengan kehidupan yang sedang dijalani bahkan menginginkan kebebasan seperti layaknya para lajang, coba kita tanya dalam hati, “apa kita mau tetap melajang seumur hidup? jika disuruh memilih, apa yang kita pilih, menikah dengan segala keindahan, kompleksitas dan tanggungjawabnya, atau hidup bebas tanpa ikatan yang boleh jadi berujung kesepian dan penyesalan?”. Dan jujurlah pada hati sendiri..
Yah, ternyata nikmat-nikmat Allah yang begitu banyaknya kadang belum cukup nyata untuk sekadar membuat kita bersyukur. Kadang kita terlalu fokus pada kesusahan diri sendiri (yang kadang justru kita buat sendiri), hingga nikmat-nikmat yang lainnya terlupakan. Seakan hidup kitalah yang paling susah. Ah, memang ternyata manusia adalah makhluk yang kurang bersyukur dan paling sering mengeluh.
Astaghfirullah wa atuubu ilaih…
~ suatu sore di Januari 2015, pengingat diri agar senantiasa dalam kesyukuran….
Bismillah....
"Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu
tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb
memerintahkannya menujumu.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka
melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah
dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan
mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan
jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap karunia.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya;
demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada
perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu
urusanNya.
Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat &
berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah
taruh sekehendakNya.
Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari
Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya?
Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.
Ia kejutan untuk
disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma
menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi;
yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia;
jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat apa?"
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua
hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab & haramnya akan
di'adzab.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim";
petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat
ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan
orang yg tersesat.
Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna".
Sumber : One Day One Juz
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh"
"JANJI SEORANG SUAMI"
Istriku :
Ketika pertama kali ku ikatkan niat hatiku dengan keberanian untuk meminangmu,menjadikan dirimu bagian dari diriku..
Istriku :
Ketika hari itu aku mengucapkan ikrar pernikahan, menyebutkan jumlah aku menebusmu..
Aku tahu sejak itulah aku harus mampu menjadi seorang yang bertanggung jawab penuh kepadamu..
Bahwa aku sekarang yang mengambil posisi ayahmu sebagai pelindungmu, posisi ibumu sebagai curahan hatimu..
Istriku :
Sungguh aku ingin menjadikanmu bagai Khadijah,
Yang mendapat curahan hati dari Sang Tauladan..
Sungguh aku ingin menjadikanmu seperti Khadijah,
Yang tak ada dua sampai akhirnya engkau harus tiada..
Namun, aku hanya lelaki biasa,
Bukan Sang Tauladan yang mampu menahan segala goda..
Namun percayalah istriku, kau wanita dari ketika aku Meminang, Mengikatkan niat dan keberanianku..
Istriku :
Terima dan pahamilah segala kekurangan dan kelebihanku, dan Aku pun akan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu..
Karena hakikat pernikahan itu saling melengkapi kekurangan dan kelebihan dua Insan ketika bersatu..
Istriku :
Bismillahi Tawakaltu Alallah, kita mulai lembaran hidup baru..
Menanti Calon Mujahid dan Mujahidah yang akan ALLAH titipkan di rahimmu..
Bersabarlah Wahai Istriku..
Ketika keadaan mendadak berubah tak seperti biasa..
Karena engkau tahu jalan hidup tak selamanya sesuai dengan harapan kita..
Karena bahagia tak bisa selamanya kita rasa..
Karena ALLAH telah menuliskan semuanya..
Bukankah ALLAH Ta’ala telah berfirman:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi ALLAH..
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-NYA kepadamu..
(QS. Al-Hadiid: 22-23)
Dan ketika engkau merasa lelah dan bimbang, datang dan bersandarlah di pundakku..
Supaya dapat kukisahkan lagi sirah Nabi yang dapat menyemangatimu..
Dan bisa kulihat lagi senyum manis diwajahmu.
Karena senyuman adalah lengkungan yang dapat meluruskan segalanya..
Semoga rumah tangga kita Sakinah Mawaddah Wa rahmah, Aamiin..
Rekening Atas Nama Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu
1. Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di
Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama USMAN BIN
AFFAN.
2. Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Usman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?
Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka?
Penasaran? Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran.
3. Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah
banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air
jernih.
4. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru
Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi
air sumurnya itu secara jual beli.
5. Mengetahui hal itu, Usman
bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah.
Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.
6. Dengan
semakin bertambahnya penduduk Muslim, kebutuhan akan air jernih pun
kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur
Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali
ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.
7.
Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus
berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.
Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).
8. Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin
baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.
9. Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun
wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua;
setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang
separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman
bin Affan.
10. Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.
Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus
bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang
tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.
11. Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.
Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya,
hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan
pengelola hotel ternama.
12. Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M).
Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan
kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan
di 'rekening' Usman bin Affan.
13. Uniknya, tanah yang digunakan
untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah
atas nama Usman bin Affan.
14. Masya Allah, saudaraku, itulah
'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan
untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa
'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi
kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.
Silahkan di share semoga bermanfaat
sumber: Ukhwah ODOJ
“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada
orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah
tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya. Melewati
ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas,
ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju
kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sejauh ini,
tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun.
Rupanya
semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur.
Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur
istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari
kehadirannya. Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur Dipandanginya
dalam-dalam wajah Aminah, istrinya. Amin segera teringat perkataan
almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah. Kakeknya mengatakan, Jika
kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama
persis dengan maumu. Karena kamupun juga tidak sama persis dengan
maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama
seperti dirimu.
Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda.
Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi. Jika suatu saat ada
yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan
perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur....
“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu. “Nanti kamu
akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat. Waktu itu, Amin tidak
sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih
lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya
sendiri. Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap
wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya,
semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur
benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa
ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari
kalbu.
Memandaginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa
sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi
yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Dalam batin, dia
bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa
beraktifitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu.
Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak
sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.
Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab
yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan
anak-anakku. Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun
tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu,
dipundakmu,
untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara
rumahku. Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan
keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau
tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau
buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.
Wahai istriku, dikala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau
tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau
penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau
penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah,kau
yang menasehatiku. Wahai istriku, telah sekian lama engkaumendampingiku,
kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas
dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu
marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu
tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata. Akulah yang harus
membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah
yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada
kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.
Karena kau insan, bukan malaikat. Maafkan aku istriku, kaupun akan
kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa
bahtera rumahtangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan
hamparan keridhoan Allah swt. Segala puji hanya untuk Allah swt yang
telah memberikanmu sebagai jodohku.”
Tanpa terasa airmata Amin
menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak
tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama
kemudian ia pun terlelap.
***
Jam dinding di ruang tengah
berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat “Astaghfirullaah,
sudah jam dua?” Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya.
Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak
kelelahan. “Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku
benar- benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan
apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati. Mau dibangunkan nggak tega,
akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa
getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan
kata-kata, hanya hatinya yang bicara.
“Wahai suamiku, aku telah
memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang
terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan
kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan dipundakmu.
“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku
lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu
untuk merengkuhku. Dengan segala
kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.
“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak
kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah
yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa
memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.
“Lalu, atas
dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak
berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil
perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam
menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu
untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.
“Maafkan aku wahai suamiku akupun akan memaafkan kesalahanmu.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu
menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah Subhanahu wa
ta'ala. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil muttaqiina imaamaa.
Subhanallah...
"Telah datang (Qur'an sebagai) mau'izhah dari Rabb kalian, penyembuh bagi
apa yang ada dalam dada, hidayah & rahmat bagi mukminin." {QS10:57}
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana sombong tak sembuh jika mesra melafal kalam Sang Maha Gagah.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana riya' tak sembuh, jika berhadapan langsung Sang Maha Luhur.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana dengki tak sembuh, jika berbincang dengan Sang Maha Pemurah.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana kecewa tak sembuh, jika disimak Sang Maha Lembut &
Mengerti.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana duka tak sembuh, jika menghayati firman Sang Maha Penyayang.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana ketamakan tak sembuh, jika berpinta pada Dzat Yang Maha Kaya.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana keraguan tak sembuh, jika bergaul dengan Dzat Yang Maha Benar.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana galau tak sembuh, jika menyeksamai ucapan Sang Maha Bijaksana.
"..Dan Qur'an itu jadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada..";
bagaimana syahwat liar tak sembuh, jika merenungi kata-kata Penyedia
Surga.
"..Dan Qur'an itu menjadi penyembuh bagi apa yang ada dalam dada.."; maka
hati gersang & jiwa haus diteduhkan oleh keakraban Yang Maha Suci.
Bismillah...
1. Hargai isterimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab isterimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.
2. Jika marah, boleh tidak berbicara dengan isterimu, tapi jangan bertengkar dengannya (membentaknya, mengatainya, memukulnya).
3. Kantung rumah adalah seorang isteri, jika hati isterimu tidak
bahagia, maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda
tawa, manja, perhatian),maka sayangi isterimu agar dia bahagia dan kau
akan merasa seperti disurga.
4. Besar atau kecil gajimu, seorang
isteri tetap ingin diperhatikan. dengan begitu, maka isterimu akan
selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.
5. 2 orang yang
tinggal 1 atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang
siapa kalah. karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman
hidup selamanya.
6. Di luar banyak wanita idaman melebihi
isterimu,namun mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya
sekarang, bukan apa adanya dirimu,saat kamu menemukan masa sulit, maka
wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain
dibelakangmu.
7. Banyak isteri yang baik,tapi diluar sana banyak
pria yang ingin mempunyai isteri yang baik dan mereka tidak
mendapatkannya. mereka akan menawarkan perlindungan terhadap
isterimu,maka jangan biarkan isterimu meninggalkan rumah karena
kesedihan, sebab ia akan sulit sekali untuk kembali.
8. Ajarkan anak laki-lakimu bagaimana berlaku terhadap ibunya, sehingga kelak mereka tahu bagaimana memperlakukan isterinya.
*) Bila bermanfaat boleh disebarkan!!! Terima kasih.
Romantis itu...
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri
terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan
suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.
Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu
sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak
ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi
pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.
Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik
mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih
siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”
Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di
waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup
dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati
kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan
perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah
perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”
Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi
istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari
lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak
pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya,
“Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”
Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera
pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri
merindukan belahan jiwanya tiba.
Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.
Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan
bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di
pundak mendadak menghilang, terbang.
Romantis itu…
Ketika
syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat
begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.
Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ,
sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak
generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat
perpisahan selamanya telah tiba masanya.
Romantis itu…
Ketika
sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau
aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya,
juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...,
بارك الله فيكم
Bismillah...
Suatu hari...
Seorang anak gadis bertanya kepada ibunya:
“Ibu, ajarkan anakmu ini untuk memilih pasangan hidup?”
Si ibu tersenyum, dan dengan bijak menjawab,
“Anakku , jangan kau
menikahi seorang lelaki hanya Karena ketampanannya, kelak akan kecewa,
Karena ia pasti akan tua. Nak, jangan pula memilihnya hanya dia
dikagumi banyak wanita, Karena kau belum tahu apa kekurangannya. Tidak
pula Karena kekayaan atau Karena nasabnya, Karena kekayaan tidak pernah
kekal, nasab tidak menjamin kemuliaan dirinya.”
“Nak, pilihlah si dia Karena akhlaknya yang mulia.
Pilihlah dia Karena imannya.
“Bu, bagaimana ingin tahu dirinya akan membuatku bahagia, padahal belum
tentu dia kaya, tampan, terkenal?” Tanya sang anak lagi.
“Nak,
ketampanan dan kecantikan ada pada hati yang merasa. Kaya ada pada hati
yang Qonaah. Terkenal di hadapan manusia belum tentu mulia di
hadapan-Nya.”
“Perbaikilah akhlakmu, perbaharuilah niatmu, kuatkan imanmu, perbanyak amalmu…
Lalu jika hari itu tiba…
Terimalah pemuda yang berani melamarmu. Setidak-tidaknya dia berniat
baik kepadamu, bukan menggodamu. Namun Karena keinginannya menjaga
kesucian cinta. Kau tentu boleh memilih, namun ingatlah, jika kau
alihkan cintamu pada harta, ketampanan, juga keturunannya, maka kamu
pasti akan kecewa. Kerana boleh jadi itu hanya topeng darinya.”
“Istikharahlah..
Dan.. Jika pilihanmu mantap padanya…
Menikahlah nak, Karena itu adalah sebaik-baik penawar fitnah kau akan
rasakan kebahagiaan Karena memenangkan Allah dalam pilihanmu.
Rasailah cinta bersamanya…
Kelebihannya membuatmu tersenyum bahagia…
Kekurangannya akan menjadi bibit-bibit cinta di antara kalian..
Karena kalian tercipta untuk saling mengisi…
Saling memperbaiki akhlak..
Semangati langkahnya, kukuhkan semangat juangnya.
Harungi bahtera rumah tangga dengan senyum ceria.
Kelak didiklah anak-anakmu untuk menjadi pejuang yang setia pada cinta yang Mulia.
"Barang siapa
menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah
ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR.
Thabrani dan Hakim).
Di samping itu Allah akan melipatkan pahala kita jika kita sudah berumah tangga..
Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik,
daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu
Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
Bismillah
☞ salahnya istri belum tentu kekurangan istri | bisa jadi suami yang lalai membimbing
☞ bila istri bermaksiat itu tanggungan suaminya, karena dia pemimpin | bila suami bermaksiat maka itu tanggungannya, karena dia pemimpin
☞ ada suami bermaksiat lalu salahkan istrinya | bahwa maksiatnya terjadi
karena kesalahan istrinya | bagi saya sikap begitu kekanak-kanakan
☞ "aku bermaksiat diluar karena tidak menemukan ketenangan dirumah" | bukannya tugasmu memandu istrimu agar dapat menenangkanmu?
☞ "aku berselingkuh karena dirumah istri ngomel melulu" | diomelin lalu
selingkuh atau selingkuh lalu diomelin? alasan lagi, lagi alasan
☞ tiada istri yang sempurna | itulah Rasul ajarkan cara "menundukkan
istri" | yaitu dengan ketaatan, kesabaran, bimbingan dan kasih sayang
☞ penuhi hak badan dan penuhi hak pengajaran baginya dengan cinta | istri
mana yang tidak membalasnya dengan cinta yang lebih nyata?
☞ tuntun istri untuk menaati dan mematuhi Allah dan Rasul-Nya | agar dia
bisa taat dan patuh pada suami karena Allah dan Rasul-Nya
☞ boleh jadi ada banyak kebaikan lain pada istrimu | namun luput dari pandanganmu | karena engkau lalai mengajarinya taat
☞ istri tidak selalu salah, suami tidak selalu benar | namun selama suami
benar, insyaAllah istri mengikuti | karena suami itu pemimpin
✿Lebih lengkapnya....Seuntai Nasehat Untuk-ku dan untuk-Mu...Saudariku Muslimah✿
Hijabku adalah kehormatanku, tanpa hijab itu
maka kehormatan itu tidak ada padaku, aku laksana telanjang meski aku
telah memakai pakaian, meski telah berjilbab gaul, sama saja tetap
telanjang tanpa hijabku yang syar'iy.
Hijabku bukanlah tontonan, bukan barang yang akan aku pamerkan, maka
hijabku itu tidak bermotif-motif atau bergaya-gaya agar terlihat modis
dan menawan, hijabku itu menyembunyikan diriku dari pandangan manusia,
bukan malah menarik perhatian mereka, hijabku melindungi aku dari bahaya
dan keburukan pandangan manusia, insyaAllah aku akan selalu aman
dengannya.
Hijabku bukanlah mengikuti trend yang sedang
berkembang, yang hari ini dipakai kemudian besok dilepas, hijabku adalah
ketaatanku kepada Allah Ta'ala, sebagai bukti ketundukan dan cintaku
kepadaNya.
Hijabku bukan barang eksperimen dan kreativitas,
yang didesain begini dan begitu untuk inovasi dalam berhijab, telah ada
suri tauladan yang baik, para ummahatul mu'minin radhiyallahu 'anha
dalam mengenakannya.
Hijabku bukan perhiasan bagiku, yang
kemudian aku berbangga memakainya namun berfoto-foto dan menyebarkan
foto itu ke khalayak ramai, agar dilihat diriku telah berhijab, padahal
aku telah berusaha menutupi diriku, wallahul musta'an.
Hijabku
bukan untuk berbangga diri dengan membentuk segala "geng" hijabers atau
yang lainnya. Meski aku bangga memakainya, itu kebanggaanku sebagai
seorang muslimah.
Hijabku bukanlah tanda eksklusifitas diriku,
aku tetap menjaga pergaulanku dengan tetanggaku dengan pergaulan yang
baik, menyampaikan salam kepada mereka dan membantu jika mereka
membutuhkan aku, dengan hijabku aku memberikan rasa aman kepada mereka
bahwa aku bukanlah penggemar ghibah dan namimah, dengan hijabku aku
berusaha menasihati dan memberikan contoh akan kemuliaan Islam bagi
pemeluknya.
Hijabku bukanlah barang yang menakutkan, bukan
citra kekerasan, namun didalamnya terdapat ketaatan dan keikhlasan dalam
menjalankan perintah Rabb-ku, mutiara yang indah berkilau hanya
ditemukan di dalam cangkang kerang yang gelap di dasar lautan, emas dan
permata hanya di temukan di kedalaman tanah yang gelap gulita.
Dibalik hijab yang tebal dan gelap itu terdapat cinta kepadamu wahai
saudari-saudari ku, cinta karena Allah, maka aku tidak ridha engkau
mengumbar auratmu demi mendapatkan secuil pandangan kagum yang hina dan
penuh syahwat, atau sedikit pujian licik penuh kepalsuan.
Hijabku senantiasa selalu bersamaku ketika aku keluar dari istanaku,
jika memang aku harus keluar dan tidak ada yang mewakili aku, hijabku
memerintahkan kepada semua mata lelaki yang bukan mahramku, agar mereka
mengalihkan pandangan mereka dariku, tundukkan pandangan itu, aku
bukanlah milikmu, bertaqwalah kepada Allah dan berpalinglah dariku.
[Andi Abu Hudzaifah Najwa]
======================
Hijab syar'i itu:
-menutup seluruh aurat,
-lebar, longgar, sederhana,
-tidak tipis/transparan
-warna tidak menggoda
-tidak kelihatan seksi atau menggoda,
-tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh,
-tidak dihias-hias,
-tidak memancing syahwat bagi yang melihat
Semakin dalam pemahamannya, semakin sederhana pula penampilannya..
Karena sungguh hijab itu untuk meraih ridha Allah, bukan decak kagum
khalayak.
==================
syarat hijab syar'i:
Hijab yang benar itu pakaiannya LONGGAR dan LEBAR,
tidak sempit/ketat,
tidak memperlihatkan lekuk tubuh,
tidak terlihat seksi dan menggoda,
tidak transparan (tembus pandang)
BUKAN membungkus KETAT seperti LONTONG,
Sumber : Dokter Muslim
Silahkan dishare jika bermanfaat
============
Mungkin judul diatas aneh, tidak masuk akal dan yang pasti kita akan
bertanya-tanya apakah benar ini terjadi? bagaimana mungkin seorang
penghafal Al Qur’an kesurupan? Bukankah bacaan Al Qur’an yang ia baca
dapat menjadi benteng pelindung dari segala gangguan jin, makhluk halus
atau pun sihir? Kisah ini nyata, bukan rekaan atau karangan saya. Kisah
nyata ini sangat penting untuk kita renungkan dan kita ambil pelajaran
dibalik kejadian ini.
Pada pertengahan tahun 2004, kami beserta tim
ruqyah mengadakan ruqyah massal di salah satu masjid besar di Surabaya.
Setelah sesi ceramah, penjelasan dan tanya jawab selesai, maka
dimulailah sesi terapi massal. Terapi massal in bertujuan agar
masyarakat mengerti bagaimana sebenarnya teknis pelaksaan ruqyah yang
sesuai dengan syari’at Islam.
Ruqyah dimulai…bacaan Al qur’an terus
dikumandangkan dengan nyaring. Saat itulah ada salah satu peserta,
wanita, yang hadir tiba-tiba berteriak-teriak kesakitan saat
mendengarkan ayat-ayat al Qur’an dibacakan. Bahkan reaksinya cukup
keras. Maka beberapa peruqyah mendekati wanita tersebut untuk melakukan
terapi lebih intensif. Beberapa orang yang hadir ternyata mengenali
wanita tersebut dan mereka menyatakan bahwa wanita tersebut adalah
seorang Hafidzoh (Hafal Al Qur’an). Betapa terherannya kami mendengar
penjelasan salah seorang yang hadir tersebut.
Terapi tetap
dilanjutkan dan dengan sedikit keras kami “siksa” jin tersebut dengan
membacakan terus ayat-ayat AlQu’an terutama ayat-ayat tentang azab
neraka. Ditengah terapi dan “siksaan” yang kami lakukan, salah seorang
peruqyah bertanya pada jin yang sedang beraksi tersebut. Bagaimana kamu
bisa masuk dalam tubuhnya, padahal dia hafal Al Qur’an? Jin itu menjawab
melalui lisan wanita tersebut,”saya sudah lama menunggu untuk bisa
masuk dalam tubuhnya, saya masuk dalam tubuh perempuan ini saat dia
minum dengan tangan kiri.”
Subhanalloh…saat itulah semua tertegun.
Maha Benar Alloh dan benar pula sabda Nabi-NYA yang mulia, Muhammad saw.
Bukankah telah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW melarang keras makan dan
minum dengan tangan kiri? Bahkan beliau pernah sangat marah pada salah
satu sahabat yang minum dengan tangan kiri? Mungkin inilah salah satu
hikmah mengapa kita perlu menjalankan setiap ajaran islam, inilah salah
satu hikmah mengapa Islam sangat detail dalam mengatur urusan manusia
bahkan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, Islam memberikan panduan yang sangat rinci.
Mungkin tidak terlalu penting bagaimana kelanjutan terapinya, yang
jelas terapi tetap dilanjutkan sampai selesai. Ada hal yang jauh lebih
penting untuk kita renungkan dan kita ambil pelajaran dari peristiwa
diatas, diantaranya :
setiap orang bisa dan sangat mungkin bisa diganggu oleh makhluk halus.
setiap ajaran Islam selalu bermanfaat bagi ummatnya, meskipun mungkin kita tidak pernah tahu apa manfaat sebenarnya dari setiap perintah dan ajaran dalam Islam itu.
Setiap perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam, dosa, dan kemaksiatan tidak hanya mendatangkan bencana akhirat berupa siksa neraka. Tetapi juga bencana di dunia, berupa musibah dan kesulitan.
Ternyata kekeliruan, dosa yang kita lakukan dapat mendatangkan musibah,
bencana, cobaan dalam kehidupan kita di dunia, meski kita tidak
menyadarinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa
mengevaluasi diri, mungkin gangguan jin, kesurupan, kesulitan hidup yang
menimpa diri kita, musibah yang datang bertubi-tubi, masalah yang
menumpuk dalam pikiran kita, tidak tenangnya kehidupan rumah tangga,
hajat dan doa yang tidak pernah terkabul, mungkin disebabkan kekeliruan,
dosa yang pernah kita lakukan, mungkin kita terlalu sering mengabaikan
perintah-NYA. Dan kita belum pernah bersungguh-sungguh untuk bersimpuh
memohon ampun pada-NYA.
======================
Semoga jadi nasehat yang bermanfaat bagi ana dan bagi kita semua...
Sumber : One Day One Juz
♥..Bismillah..♥
Wahai Saudariku yang mengaku bahwa anda muslimah... ketahuilah bahwa:
✿ Hijab itu adalah kemuliaan, maka wanita manapun yang melepaskan hijab
dari dirinya, maka ia melepaskan kemuliaan dan menggantinya dengan
kehinaan.
✿ Hijab itu adalah kesucian,
maka wanita manapun yang melepaskan hijab dari dirinya, maka ia
melepaskan kesucian dan menggantinya dengan kekotoran.
✿ Hijab itu
adalah pelindung, maka wanita manapun yang melepaskan hijab dari
dirinya, maka ia melepaskan perlindungan akan dirinya dan menggantinya
dengan kerusakan kehormatannya.
✿ Hijab itu adalah taqwa, maka wanita
manapun yang melepaskan hijab dari dirinya, maka ia melepaskan ketaqwaan
akan dirinya dan menggantinya dengan kemaksiyatan kepada Robb-nya.
✿ Hijab itu adalah iman, maka wanita manapun yang melepaskan hijab dari
dirinya, maka ia melepaskan keimanan kepada Robb-nya dan menggantinya
dengan pengingkaran.
✿ Hijab itu adalah rasa malu, maka wanita manapun
yang melepaskan hijab dari dirinya, maka ia menanggalkan rasa malunya
dan menggantinya dengan perbuatan yang memalukan.
✿ Hijab itu adalah
cemburu, maka wanita manapun yang melepaskan hijab dari dirinya, maka ia
telah membuat kerusakan yang besar pada kaumnya.
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca shalawat ketika tasyahud awal.
Pendapat pertama, wajib membaca shalawat ketika tasyhud awal.
Ini adalah pendapat kedua Imam As-Syafii sebagaimana yang beliau tegaskan dalam kitab Al-Umm.
Imam As-Syafii bahkan menegaskan, orang yang tidak membaca
shalawat ketika tasyahud awal karena lupa maka dia harus sujud sahwi. (al-Umm, 1/110).
Pendapat ini juga dipilih Ibnu Hubairah Al-Hambali sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Al-Ifshah, Imam Ibnu Baz dalam Fatwa beliau, dan Imam Al-Albani dalam sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pendapat kedua, ketika tasyahud awal hanya membaca bacaan tasyahud sampai dua kalimat syahadat dan boleh tidak ditambahi shalawat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya An-Nakhai, As-Sya’bi, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ishaq bin Rahuyah. Pendapat ini yang lebih kuat dalam madzhab Syafiiyah, dan pendapat yang dipilih Ibnu Utsaimin.
InsyaaAllah, pendapat kedua inilah yang lebih kuat, karena beberapa pertimbangan,
- Makna zahir dari hadis di atas, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengajarkan bacaan tasyahud, dan bukan shalawat
- Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk ringan ketika tasyahud awal, sebagaimana keterangan Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad (1/232)
- Terdapat hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca tasyahud dalam duduk tasyahud awal dan beliau tidak berdoa.
menahan serta mencoba ertahan dengan semua beban yang menghimpit.
Entah mengapa, hari ini tak seperti biasanya, seperti bukan diriku yang kukenal.
Aku merasa diri ini berkecil hati, seakan memulai aksi unjuk rasanya…
menentang semua rutinitas yang selama ini aku lakukan, rutinitas yang aku bangun dengan keoptimisan…meski tak memungkiri terkadang hati menjerit, kesal, mencibir dan mengumpat betapa menyedihkannya hidup ini. ‘Inikah titik lemahku? titik terendahku?
Ya Allah, bantu aku… . Aku ingin terus bertahan! Aku ingin tetap berjuang…
Ya Allah,, Aku Lelah ! terasa tidak mudah perjalanan yang aku tapaki..
perjalanan untuk menuju mimpiku dan untuk membahagiakan orang tuaku..
Berat terasa ketika kaki ini melangkah, banyak kerikil-kerikil terhampar di setiap perjalanan..
badai pun terkadang datang menerpa..membuat hati ini goyah.. ingin berhenti dan MENYERAH…
“Ya Allah! aku hanya hambaMu yang hina.
Aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengharap hanya kepadaMu.
Jika aku menangis, bukan karna aku tidak ridha dengan takdir dan ketentuanMu,
bukan karena aku terluka dengan ujianMu,
bukan juga karena aku berkecil hati denganMu.
Sedang aku hanya seorang hambaMu yang lemah.
Yang tidak punya apapun selain tangisan dan air mata, yang menemani setiap duka dan sakitku.
“Ya Allah! Tangis ini adalah pengobat dukaku.
Air mata ini adalah teman yang paling memahami akan diriku.
Aku hanyalah seorang hamba yang lelah dalam perjalananku ini.
Aku sangat penat ya Allah, Penat untuk menangisi segalanya …
Ampunilah aku ya Allah jika aku tidak beradab denganMu.
Jika aku ini hambaMu yang tidak tahu berbudi dan tidak pandai bersyukur padaMu.”
“Ya Allah, jadikanlah kesusahan dan ujian ini sebagai pembinaan untuk aku lebih akrab denganMu, lebih mengharap padaMu dan lebih memerlukanMu pada segenap waktu.
Janganlah derita dan kesakitan ini membuatkan aku jauh daripadaMu.”
“Aku ridha ya Allah dengan tadirMu ini.
Aku terima ini dengan sepenuh jiwa dan ragaku!
Aku tidak pernah bersangka buruk padaMu, .
Jika di dunia ini terlalu banyak tangisan untukku,
andai di dunia ini begitu banyak derita buatku,
andai di dunia ini tiada kebahagiaan untukku,
Kau gantilah segalanya itu dengan keindahan syurgaMu di sana.”
Ya Allah, biarlah hati ini yang menatanya,
Biarlah mulut ini tetap terkunci agar ia tak menyalahkan keadaan,
agar ia tetap menatap jauh bahwa ia pasti mampu menghadapinya.
sebuah senyum penyemangat bahwa Engkau sungguh Maha Bijaksana telah menempatkan pada posisi yang sulit…Hingga pada akhirnya nanti aku kan tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik lagi, lebih bermanfaat dan lebih tangguh dari aku hari ini…
